Aku hanya mengingat saja ketika kita dipertemukan di tempat yang tidak terduga, aku tidak berpikir kita bisa bersama. Suatu hari ketika itu kau meyakinkanku bahwa akulah pelabuhan terakhirmu, dan aku menerimamu ketika kamu masih mempunyai mimpi yang ingin kau wujudkan. Indah rasanya masa-masa disaat itu, dimana beban kita hanyalah kertas-kertas yang akan mengantarkan kita menuju gelar yang kita tuju.

Untuk kamu yang pernah berjalan bersamaku dari awal…

Aku selalu mendukung apa yang ingin kamu capai, ketika harapanmu sudah hampir hilang tak pernah sedikitpun aku ingin meninggalkanmu. Disaat kamu berada dititik paling bawahpun aku selalu ada disampingmu, karena aku percaya kamu pasti bisa mengejarnya lagi. Hingga pada akhirnya, segala usaha yang kamu lakukan membuahkan hasil. Kamu mampu meraih mimpimu, aku sangat bangga padamu saat itu. Mungkin akulah orang yang paling bahagia setelah keluargamu ketika melihatmu di titik paling atas.

Untuk kamu yang akan menjalani apa yang sudah kamu impikan sejak awal…

Aku tau konsesuensi yang akan aku hadapi, tapi percayalah hubungan jarak jauh ini tidak akan berlangsung lama. Aku yakin kamu akan kembali dan kita akan berjalan bersama-sama seperti dulu saat kita ingin melangkah dari awal. Tunggulah aku sayang…
Aku akan segera menyusulmu dengan semua mimpi-mimpiku.

Untuk kamu yang sudah berada di puncak kesuksesanmu…

Mengapa? Mengapa sekarang kau menghindar dariku? Apakah sekarang aku tidak layak berjalan bersamamu? Mengapa sekarang kau berubah seakan-akan tidak ada janji yang telah kau buat pada saat kita belum mencapai kesuksesan? Mengapa kau jarang menelpon ataupun menemuiku? Apakah ada yang lebih baik dibandingkan aku? Kau tahu, pertanyaan ini semua yang ada dalam benakku. Apakah orang biasa sepertiku tidak boleh bersama orang besar sepertimu ?

Untuk kamu yang telah pergi tanpa melihatku lagi…



Setelah kita memutuskan untuk jalani kehidupan kita masing-masing, aku mendapat kabar bahwa kau telah memiliki tambatan hati. Yang kurasakan saat aku mendengar semua itu adalah “aku tidak pantas untukmu”, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Menangis seharian, melihat album kita berdua, bahkan membaca ulang buku harianku sampai aku bosan dan ingin memulai hidupku yang baru. Sudah ku kubur dalam-dalam kenangan tentangmu, tentang kita. Bahkan telah ku tutup pintu hatiku untuk waktu yang cukup lama.

Untuk kamu yang telah bahagia dengan kehidupan barumu… Dan teruntuk cinta barumu yang mungkin kamu tidak tahu siapa diriku.

Selamat berbahagia dengan kehidupan barumu, semoga dia adalah cinta terakhirmu. Akan aku ikhlaskan semua apa yang telah terjadi, walaupun berat tapi aku harap aku bisa menjalaninya. Dan untuk kamu, perempuan yang menjadi tambatan hatinya. Semoga kamu menjadi yang terbaik untuknya…

Demi Tuhan…

Aku ikhlas…

Terima kasih Kau telah memberikan jalan yang terbaik untuk kita…

Meskipun kita tidak berjalan bersama lagi…