Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 28 Februari 2017

Menyegarkan Kembali Keluarga Anda Menurut Islam


Kesempatan kali akan saya sampaikan aspek penyegaran.Tidak cukup hanya pulih dari permasalahan, namun keluarga harus selalu dijaga kesegarannya. Agar menjadi keluarga yang selalu segar sepanjang masa pertumbuhannya, walau didera dengan aneka masalah dan dihadapkan pada aneka persoalan.
Tetap segar walau usia keluarga telah senja. Tetap segar walau tengah mengalami badai yang datang melanda. Keluarga adalah organisme hidup, maka ia selalu mengalami pertumbuhan, perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu.
Kondisi dan situasi keluarga tidak pernah flat, selalu berubah sesuai dengan siklus kehidupan dan logika permasalahan yang ada dalam setiap siklusnya. Karena organisme hidup, keluarga juga bisa mengalami kelesuan, kejenuhan, kelayuan, bahkan kematian, apabila tidak ada upaya untuk menjaga dan menyegarkannya. Menyegarkan Kehidupan Keluarga Untuk itu setiap keluarga harus pandai melakukan berbagai usaha untuk menyegarkan situasi dan kondisi keluarga.
Tidak perlu menunggu situasi layu atau mengering, namun perlu tindakan nyata dan terus menerus untuk menyegarkan kehidupannya. Ada beberapa usaha yang bisa dilakukan oleh suami istri dalam menyegarkan kehidupan berumah tangga.
Ingat Selalu “Nilai Sakral” Pernikahan Sebagai manusia beriman, kita selalu meyakini bahwa pernikahan memiliki nilai dan posisi dan nilai sakral. Dihalalkannya “segala sesuatu” antara seorang lelaki dan seorang perempuan, adalah atas nama Allah. Karena ada kehalalan yang disahkan oleh agama, karena ada contoh teladan dari kehidupan Nabi Mulia, karena ada pengesahan dari negara. Ikatan pernikahan bukan semata janji hati dan ikrar lisan dua insan yang bersepakat membangun rumah tangga, namun pernikahan adalah ikatan suci atas nama Ilahi dan melaksanakan arahan Nabi.
Pernikahan dinyatakan dalam kitab suci sebagai “mitsaqan ghalizha”, sebuah ikatan yang kokoh, yang tidak boleh diurai secara sembarangan tanpa alasan yang bisa dibenarkan. Pernikahan bukanlah sebuah uji coba atau semata-mata sarana penyaluran kesenangan antara dua manusia. Jika dipahami semata-mata sarana memperoleh kesenangan, maka tatkala rasa senang itu sudah mulai berkurang atau hilang, maka akan segera mengakhiri ikatan pernikahan, dan mencari kesenangan yang baru.
Kawin cerai, demi mendapatkan kesenangan-kesenangan baru. Jika dipahami semata-mata untuk mendapatkan teman dalam menjalani kehidupan, maka tatkala mengalami kebosanan dan ketidakcocokan sifat maupun karakter, akan segera mengakhiri ikatan pernikahan, untuk mendapatkan teman baru yang lebih mengasyikkan.
Kawin cerai demi mendapatkan teman-teman baru yang lebih menyenangkan. Seakan-akan pernikahan tidak memiliki nilai sakral sama sekali, semata-mata hanya demi mendapatkan kesenangan dan keasyikan saja. Hal yang menyegarkan kehidupan berumah tangga adalah dengan selalu mengingat posisi dan nilai sakral pernikahan. Bahwa menikah berarti ibadah, bahwa menikah berarti menjalankan sunnah, maka tidak layak dijadikan permainan atau semata dipahami sebagai kesenangan.
Sebagai insan beriman, kita memiliki motivasi yang suci dan mulia dalam membangun hidup berumah tangga. Motivasi untuk ibadah kepada Allah, motivasi untuk menjalani sunnah Nabi Saw, motivasi untuk membangun peradaban kemanusiaan yang bermartabat, motivasi untuk menjaga kehormatan diri, motivasi untuk mewariskan generasi Rabbani.
Ini adalah sejumlah motivasi suci yang sudah menjadi kesadaran setiap insan beriman dalam menjalani pernikahan. Berbagai motivasi itu merupakan idealisme yang dibangun menjelang proses pernikahan. Hendaknya motivasi ini selalu dijaga dan dijadikan pengingat di sepanjang kehidupan.
Dengan selalu kembali kepada motivasi awal dalam membangun keluarga, suami dan istri akan selalu bisa melawan kejenuhan, kebosanan, kegersangan, kehambaran, dan kelayuan kehidupan berumah tangga. Suami dan istri akan sanggup menahan berbagai kegetiran dan kesakitan yang bisa didapatkan dalam mengarungi hidup berkeluarga.
Maka keluarga akan bisa disegarkan suasananya, dengan menghadirkan kekuatan dan kesucian motivasi awal dalam membangun rumah tangga. Konsisten Dengan Tujuan Coba ingat kembali, apa tujuan anda menikah dan membentuk keluarga. Tidak mungkin anda menikah begitu saja. Mustahil anda tidak memiliki kesadaran tentang tujuan saat melaksanakan prosesi pernikahan. Bisa saja tujuan itu sejak awal anda nyatakan dengan yakin, namun bisa pula tujuan itu anda ciptakan kemudian. Sedangkan naik angkot saja anda punya tujuan, bagaimana mungkin menikah tidak memiliki tujuan?
Pasti semua orang memiliki. Di antara tujuan penting dari pernikahan adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Membentuk keluarga yang menjadi sarana pengabdian kepada Allah dan sarana mengoptimalkan potensi kemanusiaan.
Tujuan menikah adalah untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan, juga memberikan kebahagiaan yang tidak mungkin bisa didapatkan kecuali dengan menjalani pernikahan. Tujuan menikah adalah merawat hasrat syahwat dengan menyalurkan secara benar dan halal serta bertanggung jawab. Semua tujuan itu adalah proses yang harus diusahakan dan diperjuangkan, karena tidak akan tercapai dengan sendirinya hanya dengan melaksanakan akad nikah.
Semua tujuan mulia dari pernikahan adalah sebuah obsesi yang memerlukan tindakan nyata, memerlukan daya dan upaya untuk menggapainya. Bagian-bagian dari tujuan itu ada yang sudah didapatkan sejak awal menjalani kehidupan pernikahan, namun ada tujuan jangka panjang yang harus diusahakan di sepanjang perjalanan.
Tujuan-tujuan pernikahan ini merupakan sarana penyegaran, bahwa suami dan istri tidak bisa semena-mena menyatakan mengakhiri ikatan pernikahan hanya karena ada permasalahan atau pertengkaran. Capat memutuskan untuk bercerai hanya karena ketidakcocokan, atau karena didera kekecewaan.
Bukankah ada sangat banyak tujuan yang hendak anda wujudkan dan belum semuanya bisa didapatkan. Maka sudah seharusnya suami dan istri fokus memikirkan dan mengupayakan tercapainya berbagai tujuan tersebut. Karena ada sejumlah tujuan itulah dulu anda menikah, maka upayakan terwujudnya tujuan secara bersama-sama.
Memutar Ulang Kehidupan Jika anda telah melewati sepulun tahun usia pernikahan, ada baiknya anda mencari waktu untuk duduk bercengkerama berdua dengan pasangan tercinta. Putar ulang kehidupan anda sejak awal pertemuan. Ingat kembali rekaman kejadian yang membahagiakan. Hadirkan kembali momentum romantis yang pernah anda lalui bersama pasangan.
Datangi kembali tempat-tempat yang sangat mengesankan dalam sepanjang kehidupan pernikahan. Anda memerlukan kebersamaan untuk menikmati waktu-waktu istimewa, sembari merasakan getaran-getaran cinta yang dulu anda temukan bersama pasangan. Sunset yang sangat indah, sunrise yang berkesan, ombak pantai yang menawan, panorama yang memberikan kejutan, cerahnya udara yang pernah anda abdikan, hujan yang memberikan kesempatan anda berdua menikmati basah kuyup dan kedinginan, pengalaman tersesat di jalan yang tak terlupakan, dan aneka peristiwa berkesan lainnya.
Putar ulang rekaman indah kehidupan anda bersama pasangan. Jangan memutar ulang hal-hal yang menyedihkan dan menyakitkan. Jangan menghadirkan kembali kenangan pahit yang menimbukan luka tak tersembuhkan. Biarkan kenangan buruk itu dikuburkan tanpa perlu dibangkitkan kembali pada kehidupan saat ini.
Anda hanya memerlukan waktu khusus untuk melewati berdua saja dengan pasangan tercinta, di tengah berbagai kesibukan kerja yang mendera anda. Jangan biarkan waktu selalu berlalu tanpa ada kesempatan untuk melewati bersama pasangan. Itulah pentingnya menciptakan momentum romantis dalam hidup berumah tangga. Karena momentum inilah yang bisa anda putar ulang kapan saja terutama di saat anda berdua tegah mengalami konflik dan ketegangan bersama pasangan.

0 Komentar Menyegarkan Kembali Keluarga Anda Menurut Islam

Posting Komentar

Back To Top