Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 01 Maret 2016

Subhanallah..... Inilah dr. Dian, Dokter Desa yang Rela Dibayar dengan Sayur Mayur

Inilah dr. Dian, Dokter Desa yang Rela Dibayar dengan Sayur Mayur
Inilah dr. Dian, Dokter Desa yang Rela Dibayar dengan Sayur Mayur

"Bantulah orang yang tidak seberuntung dirimu… Semua jiwa memiliki rasa kemanusian, hanya motivasi yang menentukan besar kecilnya rasa…"
 
Demikianlah ungkapan yang sangat membekas dari Dokter Dian, dokter muslimah di sebuah desa di wilayah Selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur. 
 
Berbeda dengan dokter-dokter lain, dokter Dian rela dirinya dibayar dengan sayur-mayur. Padahal biaya pendidikan seseorang untuk menjadi seorang dokter sangatlah besar. 
 
Tak jarang, pasien membawa satu wadah berisi jagung mentah, kacang panjang, sawi, sepotong tempe dan sejumlah hasil pertanian kepada dia sebagai ganti biaya pengobatan.
 
Mengapa dokter Dian mau dengan bayaran itu?. “Saya hanya ingin membantu pasien. Gimana rasanya kalau kita jadi orang tidak beruntung,” kata Dian Agung Aggraeny, dokter umum yang rela dibayar pasienya dengan sayur-mayur dan hasil bumi, Kamis (25/2/2016), seperti dikutip Beritajatim.com.
 
Dokter Dian, seorang ibu dari tiga orang anak kelahiran asli Malang, 14 Februari 1977. Ia mendapatkan gelar dokter dari Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Terlecut membantu warga kurang mampu, dokter Dian pun memanfaatkan balai praktik pengobatan ibunya yang seorang bidan desa.
 
Atas dasar itulah, balai pengobatan sekaligus rumah tinggal dokter Dian di Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, disulap menjadi layaknya Puskesmas mini. 
 
Menariknya, untuk membantu dokter Dian menangangi antrean pasien, wanita murah senyum ini mempekerjakan tetangga dekat rumah sebagai asisten pribadinya. Beberapa di antaranya bahkan penyandang disabilitas.
 
Asisten dokter Dian bertugas mendata nama dan riwayat pasien yang ingin berobat. Dalam sehari, cukup banyak pasien yang memilih tenaga dokter Dian untuk diobati. 
 
Hal itu karena sang dokter tak pernah menarik biaya pada seluruh pasiennya. "Pasien yang datang kan nggak mesti. Ada yang mampu, dan ada yang tidak mampu membayar. Kalau nggak mampu, nggak mungkin kita tarik biaya. Saya biarkan membayar semampunya saja,” bebernya.
 
Di mata dokter Dian, tidak semua orang seberuntung dirinya. Motivasi untuk melayani warga kurang mampu hanyalah satu dari faktor kemanusiaan saja.
 
“Saya ingin mengabdi di desa. Kembali ke desa karena ini juga tempat kelahiran saya. Motivasi untuk melayani warga kurang mampu, hanya karena faktor kemanusiaan saja. Bagaimana rasanya kalau kita jadi orang yang tidak beruntung seperti mereka,” katanya.
 
Menurutnya, pasien yang tidak mampu membayar biaya pengobatan, ia gratiskan. Namun hal itu justru membuat pasien merasa sungkan. Alhasil, mereka justru mempunyai cara tersendiri sebagai bentuk imbalan rasa terima kasihnya.
 
“Pasien yang tidak mampu bayar saya biarkan. Saya bebaskan membayar semampunya. Dan biasanya, mereka berinisiatif sendiri. Kadang ya itu, ada yang bayar pakai sayur-mayur atau hasil bumi lainnya. Ya kita terima saja, karena kondisi pasien mampunya memang seperti itu,” tutur dokter Dian sembari tersenyum.
 
Biasanya, pasien menempatkan sayur-mayur dalam wadah plastik sebagai alat pembayaran. Di dalamnya, terdapat jagung, kacang panjang, sawi hingga hasil bumi lainnya. 
 
Dokter Dian pun justru bersyukur. Jerih payahnya mengobati, ternyata membuat seluruh pasienya merasa senang dan terbantu.
 
Sisi lain yang tak kalah humanis adalah dokter Dian juga dikenal sebagai sahabatnya para penyandang disabilitas di desa tersebut.
 
Hampir seluruh penyandang disabilitas memilih dokter Dian jika mereka butuh pelayanan berobat. Salah satunya, Eka Wulandari. Eka adalah gadis penyandang disabilitas. Cukup lama Eka menjadi pasien dokter Dian. Eka bahkan mengartikan keberadaan dokter Dian seperti malaikat tanpa sayap.
 
“Saya menyebutnya malaikat tanpa sayap. Karena sering sekali dibantu dokter Dian,” terang Eka. 
 
Keberadaan praktek pengobatan milik dokter Dian sangat membantu warga kurang mampu dan penyandang disabilitas seperti dirinya.
 
“Sering dibantu dokter Dian. Misalkan saya sakit, saya bawa sayuran. Pernah juga rawat inap di sini selama tujuh  hari. Sakit types, padahal kan tujuh hari dan gratis,” kenang Eka. 

Subhanallah... jangan lupa bagikan info ini agar meninspirasi semua orang untuk bekerja dengan ikhlas.....
red: ummu syakira

1 Response to Subhanallah..... Inilah dr. Dian, Dokter Desa yang Rela Dibayar dengan Sayur Mayur

  1. Gabung yuk di F*a*n*s*B*E*T*T*I*N*G
    Ini pin bbmnya 5ee80afe :D

    BalasHapus

Back To Top